Khotbah Pdt. Lukas Sukono 20 Agustus 2017 – Mengenal Allah Melalui Sejarah Penciptaan

MENGENAL ALLAH MELALUI
SEJARAH PENCIPTAAN
Kejadian 1-2

Salah satu tujuan dari diwahyukannya Alkitab adalah supaya manusia dapat mengenal Allah dengan benar. Segala sesuatu yang Allah lakukan, sifat, kepribadian, kearifan dan kebijaksanaanNya semua tertulis di dalam Alkitab. Dengan mengerti isi Alkitab, maka kita akan semakin mengenal keberadaan Allah dengan sesungguhnya.

Salah satu bagian penting dalam Alkitab, yang menjelaskan tentang keberadaan Allah adalah sejarah atau peristiwa penciptaan Alam semesta dengan segala isinya. Dalam catatan penciptaan ini kita diperkenalkan tentang Allah, juga tentang segala sesuatu yang telah diciptakannya. Berkaitan dengan pribadiNya, Allah perkenalkan dirinya sebagai berikut:

1. Allah itu ada, Dia adalah pencipta.
Sekalipun ada golongan yang tidak mempercayai adanya Allah, keberadaan Allah sangat nyata di dalam catatan penciptaan ini. Dialah yang mengadakan segala sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada seperti sekarang ini. Hanya dengan berfirman (kecuali dalam penciptaan manusia) semuanya terjadi. Dan sangat jelas bahwa pribadi tersebut adalah Allah. Tidak ada sesuatu yang terjadi dengan sendirinya. Hanya Allah yang ada dengan sendirinya, dan itu sifatnya kekal. Semua yang ada di bumi diadakan oleh satu pribadi yaitu Allah yang maha besar.

2. Allah itu dahsyat, keatif dan bijaksana.
Dengan memperhatikan susunan atau urutan dari penciptaan, kita bisa memahami bahwa Allah itu sangat bijak dan cerdas. Ia tidak salah, sebab semua yang diciptakan kemudian selalu memerlukan semua yang diciptakan sebelumnya. Selain itu kita juga melihat keunikan dari setiap ciptaan dengan kekhususan masing-masing yang menunjukkan kehebatan dari Tuhan sang pencipta itu. sebut saja sekarang ini manusia yang jumlahnya 7 miliar. Tidak ada yang sama. Masing-masing memiliki suara yang berbeda, sidik jari yang berbeda dan bentuk fisik yang berbeda. Itu semua menunjukkan hikmat dan kedahsyatan Tuhan

3. Allah itu sempurna.
Semua yang diciptakan Allah baik adanya. Tidak ada yang tidak baik. Itu menandakan bahwa Ia membuat segala sesuatu dengan sempurna dan agung. Karya maha agung ini membuat kita terkagum sebab tidak akan pernah ada manusia yang dapat menandingi maha karya Tuhan di alam semesta ini. Jadi tidak ada alasan bagi setiap kita merasa diri ini tidak berharga, sebab bagi Tuhan kita adalah karyanya yang terbaik.

4. Allah itu peduli.
Perhatian Tuhan terhadap semua ciptaannya ditandai dengan pemberkatan yang Dia lakukan setelah selesai menciptakan segala sesuatu. Berkat itu menyertai semua ciptaanNya, termasuk di dalamnya kita adalah umat yang diberkati oleh Tuhan. Berbahagialah setiap orang yang percaya kepadaNya. Tuhan adalah Allahnya yang akan memberkati senantiasa.

Khotbah Pdt. Lukas Sukono 6 Agustus 2017 – Perjamuan Kudus

PERJAMUAN KUDUS

I Korintus 11:23-32

Dalam Kekristenan ada dua sakramen yang wajib dilakukan:
1. Baptisan air: sebagai deklarasi pertobatan dan ketetapan hati untuk menjadi pengikut Yesus.
2. Perjamuan Kudus sebagai pengingat perbuatan ajaib yang Allah lakukan bagi gereja Tuhan melalui kehadiran dan karya salib yang Yesus lakukan bagi gerejaNya.
Dengan mengadakan perjamuan Kudus, gereja mengingat beberapa peristiwa penting berkaitan dengan keselamatan:
1. Yohanes 3:16 : Kasih Tuhan.
Bapa memberikan anakNya yang tunggal demi keselamatan manusia. Ini merupakan tindakan luar biasa yang hanya dapat dilakukan oleh Allah yang memiliki kasih tak terbatas terhadap umatNya. Karena cintaNya kepada kita, maka Bapa di sorga memberikan anakNya. Demikian juga dengan kasih sang Anak. Ia rela meninggalkan kemulianNya, menjadi manusia yang hina, mengorbankan diriNya demi keselamatan kita dan penebusan dosa manusia (Filipi 2;5-8).

2. Yesaya 53:1-5: Peristiwa Salib.
Peristiwa penyaliban melakukan banyak hal penting yang semuanya mendatangkan keuntungan bagi umat yang percaya kepadaNya. Hal tersebut tidak boleh dilupakan dan harus tetap diingat:
– Melalui kematian Yesus di salib, kita semua terselamatkan, sebab kitalah yang seharusnya dihukum, tetapi Dia menggantikan posisi kita dengan menjadi orang yang terhukum.
– Melalui kematian Yesus di salib ada kemenangan besar, sebab kuasa iblis dikalahkan. Puncaknya adalah kebangkitan Yesus pada hari yang ketiga setelah kematianNya.
– Melalui Peristiwa penyaliban Yesus, status kita diubahkan: dari orang berdosa menjadi orang benar. Dari bukan anak Allah menjadi anak Allah (Yohanes 1:12).
– Melalui penyaliban Yesus, kita mengalami penyembuhan dan pemulihan, sebab bilur-bilurnya memiliki kiasa penyembuhan.

Hal-hal yang seperti inilah yang tidak boleh dilupakan. Melalui perjamuan kudus kita mengingatnya, sebab tanpa salib tidak mungkin kita ada seperti sekarang ini dan memiliki kepastian hidup kekal di dalam kemuliaanNya. Oleh sebab itu selayaknyalah perjamuan kudus dilakukan dengan penuh hormat, dengan hati yang suci dan syukur kepada Tuhan, supaya kita menerima berkat Tuhan dan bukan seperti yang dialami oleh jemaat Korintus. Secara fisik kita tidak melihat tubuh dan darah Tuhan Yesus, tetapi roti dan anggur merepresentatifkan kehadiranNya, dan kuasa salip ada diantara umatNya saat mereka melakukan sakramen perjamuan Kudus. Marilah kita mengoreksi diri kita, dan membuat hidup kita dilayakkan di hadapanNya. Tuhan memberkati kita semua. AMIEN

Khotbah Pdt. Lukas Sukono 30 Juli 2017 – Doa yang Mubazir

DOA YANG MUBAZIR

Pada dasarnya setiap umat dari berbagai latar belakang keyakinan dan agama memiliki pemahaman yang sama, yaitu bahwa doa merupakan sebuah kegiatan yang didalamnya mengandung manfaat yang besar. Umat manusia percaya adanya Tuhan yang berkuasa mengabulkan setiap permintaannya tersebut.

Dalam sejarah Alkitab, kita juga menemukan bahwa banyak dari para tokoh Alkitab benar-benar mengalami hal-hal supranatural ketika mereka menaikkan doanya kepada Tuhan. Sebut saja Elia. Ia manusia biasa, tetapi karena sungguh-sungguh berdoa, Tuhanpun mengabulkan doanya, sehingga langit tidak menurunkan hujan selama 3 tahun enam bulan. Dan ketika ia meminta hujan, hujanpun turun (Yakobus 5:13-18). Contoh lainnya adalah orang-orang Niniwe. Karena kejahatannya Tuhan hendak menghukum mereka, tetapi saat bangsa Niniwe merendahkan diri, berdoa, berbalik dari jalnnya yang jahat, Tuhapun mengubah keputusannya dan memberkati mereka.( Yunus 3:4-10).

Jika demikian, apakah semua doa yang dipanjatkan kepada Tuhan selalu mendapatkan jawabannya? Ternyata tidak. Bahkan secara ekstrim kita dapat katakan ada doa-doa yang menjadi mubazir, atau tidak berguna, sekalipun kita panjatkan kepada Tuhan. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal:

1. Terhalang oleh dosa (Yesaya 59:1-2).
Ini menjadi penting, sebab Tuhan itu suci, dan Ia menghendaki umatNya hidup dalam kesucian. Setiap dosa harus diselesaikan, dan tidak boleh menjadi penghalang dari doa yang dinaikkan kepada Tuhan. Jika umat Tuhan sungguh-sungguh bertobat, maka tangan Tuhan yang berkuasa akan terulur dan memulihkan umaNya (2 Tawarikh 7:14)

2. Tujuan doa yang salah (Yakobus 4:3).
Ketika kita berdoa, maka perlu mengerti tujuan dari doa tersebut. Kita bisa membandingkannya dengan doa Yabes (I Tawarikh 4:9-10). Ia bersunggh sungguh berdoa, dan doanya dikabulkan, sebab dalam doanya Yabes ingin menunjukkan bahwa Tuhan itu tidak pilih kasih, Tuhan itu sanggup memulihkan, dan Tuhan bisa mengubah keadaan seseorang. Doa yang kita naikkan bukan bertujuan untuk pemuasan daging, sebab hal itu membuat Allah tidak berkenan.

3. Hidup yang tidak bertanggung jawab.
Allah ingin kita bertanggung jawab dan bijak dalam mengelola kehidupan ini, oleh sebab tu kehidupan kita seyogyakan sesuai dengan doa yang kita panjatkan kepada Tuhan. Jika kita ingin sehat, maka kita tidak boleh menjalankah kehidupan yang menimbulkan penyakit. Jika anak sekolah berdoa supaya pintar, ia wajib belajar giat. Jika kita berdoa supaya sukses, maka kita harus menjalankan hidup berkualitas yang menunjukkan diri kita adalah orang yang sukses.