Khotbah Pdt. Lukas Sukono 7 Januari 2018 – Janji Tuhan

JANJI TUHAN

Salah satu sifat Tuhan adalah suka berjanji, tetapi Ia juga tidak pernah mengingkari janji yang disampaikanNya. Menurut beberapa orang yang pernah meneliti Alkitab, terdapat lebih dari 10,000, janji Tuhan kepada umatNya. Baik itu janji tentang keselamatan, berkat, perlindungan dan lain-lain. Itu sebabnya Alkitab disebut kitab perjanjian: Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, karena di dalamnya memuat janji-janji Allah.

Janji yang dimaksud bukanlah promise: perjajian antar dua pihak atau lebih, yang jika tidak ditepati atau salah satunya berkhianat pihak yang dirugikan bisa menuntut, tetapi Covenant, yaitu: sebuah janji yang diucapkan, dengan maksud memberikan sebuah kebaikan pada pihak yang menerima janji, sementara jika penerima janji tidak menghiraukan, maka pemberi janji tidak dirugikan apa-apa, sebaliknya penerima janjilah yang dirugikan. Sebagai gambaran: Seorang ayah berjanji kepada anaknya, jika ia naik kelas, maka sang ayah akan membelikan sepeda. Maka sang anak akan rugi jika tidak naik kelas, sementara sang ayah tidak rugi apa-apa, sebab tujuan dari janji tersebut adalah demi kebaikan anak tersebut. Demikianlah dengan Allah, Ia berjanji untuk memenuhi kebutuhan dan demi kebaikan hidup umat-umatNya, yang seringkali disertai dengan kata JIKA, artinya ada sesuatu yang harus kita penuhi.

Adapun janji Tuhan itu murni, berkualitas, dan layak untuk dipercaya (mazmur 12:7). Tidak ada alasan untuk meragukannya sebab Ia adalah Allah yang setia terhadap perjanjian yang diberikanNya. Di pihak kita, Allah hanya meminta PERCAYA. Hal seperti inilah yang dilakukan oleh Abraham ketika menerima janji Tuhan. Sekalipun sepertinya mustahil, ia percaya kepada Tuhan, dan hal itu Allah perhitungkan sebagai kebenaran. (Kejadian15:5-6).
Bagaimana kita merespon janji Tuhan? Kita bisa belajar dari seorang tokoh bernama Kaleb (Yosua 14:6-15). Selama 45 tahun, ia menantikan janji Tuhan dengan tidak bergeser dari imannya. Bahkan Alkitab memberi kesaksian bahwa selama waktu itu Kaleb tetap mengikuti Tuhan Allah dengan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri. Hatinya tetap tertuju kepada janji Tuhan, dana akhirnya Tuhan menggenapi perjanjian tersebut.

Perlu kita ketahui, janji Tuhan itu tidak selamanya langsung diberikan, ada waktu Tuhan, yaitu saat Dia melihat kita layak menerima janji tersebut, jangan menganggap Tuhan lalai, sebab pada waktunya Ia pasti menggenapinya. Mari kita Belajar terus percaya, melakukan yang berkenan kepada Tuhan dan menanti dengan setia.

Ringkasan Khotbah : Pdt. Lukas Sukono

Khotbah Pdt. Lukas Sukono 31 Desember 2017

HAL TERPENTING MEMASUKI TAHUN 2018

Tahun 2017 telah kita lewati dengan berbagai macam warna kehidupan: ada suka, ada duka, ada sukses, ada gagal, ada sakit, ada sehat. Semuanya itu bagian dari proses dan perjalanan kehidupan yang harus terjadi bagi setiap kita, untuk mendatangkan kebaikan (Roma 8:28). Sebab dengan kehidupan yang seperti itu, maka kita mengerti kemampuan dan berkat Tuhan yang luar biasa yang telah dikaruniakan kepada kita, sekaligus kita menyadari ketidakberdayaan kita, keterbatasan dan betapa lemahnya kita tanpa Tuhan di dalamnya.

Memasuki tahun yang baru, setiap kita mengharapkan bahwa di tahun 2018 ini menemukan kehidupan yang lebih baik, lebih sukses, lebih sehat…., sekalipun hidup ke depan adalah sebuah misteri. Untuk mencapai hal tersebut berbagai rencana, ketetapan dan niat sudah kita canangkan, mulai dari hal-hal yang menyangkut sikap hidup, maupun strategi mencapai kesuksesan yang lebih besar lagi. Hal-hal tersebut tidak bisa kita sepelekan, sebab sikap hidup sangat menentukan hal apa yang akan kita dapatkan dalam hidup ini. Namun demikian tidak boleh lupa, bahwa yang terpenting yang harus ada dan kita miliki adalah PENYERTAAN TUHAN. Sebab, jika Tuhan tidak berserta dengan kita, dan Ia tidak berkenan memberkati, maka semua yang kita kerjakan akan menjadi sia-sia belaka.

Penyertaan Tuhan menjadi hal yang penting dalam perjalanan kehidupan kita, seperti halnya kerinduan para tokoh Alkitab, dan juga pernyataan Tuhan sendiri:

Kejadian 35:1-5: Tuhan menyertai perjalanan Yakub dan keluarganya, sehingga kegentaran meliputi setiap kota yang mereka lalui, dan merekapun tidak mengalami gangguan dalam perjalanannya.
Keluaran 33:15-17: Musa meminta jaminan kepada Tuhan, supaya Ia menyertai perjalanannya, sebab jika tidak, mereka tidak akan melanjutkan perjalanannya

Yosua 1: 1-6 : Tuhan yang mengutus Yosua menjamin bahwa Ia menyertai, sehingga Yosua tidak perlu takut dan harus berjalan maju menduduki tanah Kanaan.
Untuk dapat alami penyertaan Tuhan, kita bisa belajar dari perjalanan Yakub:
1. Dimanapun Yakub berdiam, disitu ada mezbah yang dibangun. Artinya adalah membangun hubungan, doa, dan persekutuan dengan Tuhan. Sebab Tuhanlah sumber inspirasi dan hikmat dalam perjalanan hidup kita.
2. Mensterilkan diri dari semua kenajisan. Baik itu spiritual maupun kenajisan lahiriah, sebab Tuhan  hanya berkenan kepada kekudusan, dan tanpa kekudusan kita tidak akan pernah melihat kemuliaan Tuhan.

Dengan demikian, setiap kita harus meyakinkan dan membuat diri menjadi orang-orang yang layak disertai Tuhan di tahun 2018 ini. Tuhan memberkati.

Khotbah Pdt. Lukas Sukono

Khotbah Pdt. Lukas Sukono 5 November 2017 – Hidup yang Dipulihkan

HIDUP YANG DIPULIHKAN

2 Raja-raja

Secara umum, kata dipulihkan memiliki pengertian dikembalikan pada posisi semula. Sebagai contoh seseorang yang dicemarkan namanya mendapat pemulihan setelah pihak yang melakukan pencemaran mengklarifikasi dan menyatakan bahwa hal tersebut tidak benar. Seseorang yang sakit dan sembuh juga dapat dikategorikan sebagai pemulihan kesehatan.

Konsep ini rupanya sangat berbeda dengan konsep pemulihan yang Tuhan lakukan. Jika Tuhan memulihkan keadaan seseorang, maka keadaan orang tersebut bukan saja kembali seperti sediakala, tetapi menjadi lebih baik dari keadaannya semula. Hal inilah yang dialami oleh Naaman saat ia mengalami pemulihan dari sakit kustanya. Bukan saja kulitnya sembuh, tetapi berubah menjadi seperti kulit seorang anak, dan keadaannya menjadi lebih baik dari semula. Pemulihan yang dialami oleh Naaman ini rupanya merupakan sebuah proses panjang dari keyakinannya kepada Tuhan, sebab ia harus bergumul dengan imannya dan sikap hatinya untuk mendapatkan pemulihan tersebut. Dan seandainya ia tetap pada pendiriannya semua, maka dapat dipastikan pemulihan dan kesembuhan tersebut tidak pernah terjadi di dalam hidupnya, dan keadaannya tidak pernah berubah.

Kita bisa melihat proses yang dialami oleh Naaman
ini:
1. Pergumulan imannya.

Ia seorang fafir, yang tidak pernah mengenal Allah. Tetapi karena mendengar berita tentang Allah dari pembantunya, iapun mulai percaya, beriman dan memutuskan untuk datang kepada Tuhannya Elisa yang didengarnya tersebut. Ini bukan perkara yang mudah, tetapi keputusannya adalah sesuatu yang benar dan tepat, sebab memang Tuhannya Elisalah Tuhan yang sesungguhnya yang dapat menyembuhkan penyakitnya. Bagaimana dengan kita? Apakah yang kita dengar tentang Tuhan kita Imani dengan sepenuhnya?. Roma 10:15: “Iman timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan”. Hal ini juga terjadi dengan perempuan yang sudah 12 tahun pendarahan karena mendengar berita tentang Yesus, maka imannya bertumbuh dan buahnya adaah kesembuhan. (Lukas 5:12- ). Artinya bahwa kita bukan hanya berhenti mendengar, tetapi harus percaya dan bertindak seperti yang kita dengarkan.

2. Pergumulan dengan sikap hati.

Naaman bukan orang biasa. Ia seorang panglima tentara yang terhormat. Perintah Elisa untuk mandi di sungai yordan yang kotor merupakan sebuah penghinaan. Sepertinya pantas untuk di tolak, dan iapun menolaknya. Ia harus bergumul dengan sikap hatinya, perasaannya sebagai orang besar, terhormat, dan kondisi sungai Yordan yang kotor. Tetapi bersyukur, pada akhirnya ia memilih untuk merendahkan diri, mengikuti perintah Tuhan lewat Elisa dan terjadilah kesembuhan. Rupanya Tuhan ingin memproses hati Naaman sebelum memulihkan fisiknya. Keadaannya tidak akan pernah berubah seandainya hatinya tidak diubahkan. bahwasannya kondisi dan keadaan kita tidak akan pernah berubah sebelum hati kita diubahkan.

 
Ringkasan khotbah : Pdt. Lukas Sukono